Sabtu, 26 Mei 2012


RESUME BEDAH BUKU YA ALLAH, DIAKAH JODOHKU?




Menikah merupakan sunnah Rasulullah S.A.W. sepeti sudah kita ketahui bahwa ketika seseorang menikah, maka separuh dari agamanya (din) akan sempurnya. Sedangkan separuhnya lagi adalah ketakwaan. Hidup, mati, rejeki dan Jodoh adalah Takdir Allah yang hanya Allah lah yang tahu. Karena jodoh adalah takdir Allah, maka menikah juga Takdir Allah. Ketika kedua insan dipersatukan dalam ikatan pernikahan itu juga adalah takdir Allah.


Allah yang maha bersar menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan berpasang pasangan. Demikian pula dengan manusia. Dalam hidup manusia selalu membutuhkan bantuan orang lain. Dan fitrah seorang wanita adalah membutuhkan pasangan. Mereka tidak hanya membutuhkan teman saja. Tetapi mereka butuh seorang Suami, untuk melengkapi kehidupan mereka.


Wanita memang sebagian besar dan umumnya lebih memikirkan pernikahan dibandingkan dengan laki laki. Berbeda dengan laki laki, yang umumnya lebih easy going mengenai pernikahan dibandingkan dengan wanita. Kenapa? Karena (menurut saya) salah satu faktornya adalah wanita memiliki Date line. Date line itu adalah menopause. Berbeda dengan laki laki yang tidak akan pernah mengalami menopause. Seperti yang kita ketahui, ketika menopause maka masa subur seorang wanita sudah tidak ada. Sehingga mereka tidak dapat memiliki anak. Berbeda dengan lelaki yang tidak mempunyai masa menopause.


Seseorang yang ingin menikah, harus memiliki KEMANTAPAN hati, bukan hanya sekedar menikah saja. Kemantapan hati, agar pernikahan tersebut menjadi sarana untuk menyempurnakan separuh dien. Menjalankan sunah (ibadah), sarana untuk mencari ridha Allah, dan menjagi diri agar tetap di jalan Allah (menghindari Zina).


Mengapa sulit mencari Jodoh?


Tidak tahu sosok seperti apa yang diingini.
Seorang wanita yang tidak tahu seperti apa sosok yang diingini sulit mencari jodoh. Karena ketika dia tidak tahu seperti apa sosok calon suami yang diinginkan , maka dia tidak akan mempunyai gambaran.


Karena itulah, bagaimana sebenarnya sosok yang diingini. Apabila sosoknya ingin seperti Nabi Muhammad saw. Maka berusahalah menjadi Khadijah atau Aisyah. Jika ingin sosoknya seperti Utsman bin Affan, maka berusahalah menjadi Fatimah. Dst. Yang jelas, sosok itulah yang nanti akan mengantarkan kita menuju kebahagian dunia akhirat (amin)


Tahu sosoknya tapi tidak tahu bagaimana mencarinya.
(hmm… kalo ini kok kayaknya gue banget ya  ) dalam islam tidak mengenal istilah pacaran. Yang ada adalah taaruf. Dan bagaimana cara bertaaruf? Mungkin bisa dengan mencari sendiri atau melalui mediator (mak comblang), atau bisa juga minta dicarikan oleh orang tua. (Hmm.. yang ketiga kok rasanya aneh ya?jaman sekarang? Minta dijodohin?gak ghaol banget!ini adalah pendapat saya pribadi) minta dicarikan oleh orang tua adalah salah satu alternative untuk mencari jodoh. Justru malah terkadang pilihan orang tua dirasa pas untuk si anak. Karena orang tua pasti memilihkan yang terbaik untuk anaknya, serta orang tua tahu betul sifat si anak, sehingga ketika beliau mencarikan, pastilah sudah mempertimbangkan banyak hal.( Jadi kalau dijodohin ya so what? Emang si jaman sekarang Biar bukan jaman siti nurbaya, tapi Bersyukur aja kalo dijodohin  belum tentu kita nyari sendiri bisa dapet yang lebih baik dari yang dijodohin ke kita. Emaaakkk… jodohin gue dooongg.. hahaha)


Kriteria yang terlalu tinggi.
(nah nihh.. ini nih.. mbok jangan terlalu perfeksionis!) criteria yang ditetapkan terlalu tinggi justru menghambat pencarian jodoh. Kenapa? Ya.. kalau criteria terlalu tinggi susah lah nyari yang seperfect itu. Yang penting adalah Agamanya, dia bisa mengantarkan kita mendapat ridha Allah, serta kalau bisa yang status sosialnya sekufu. Bukannya apa apa. Tapi ketika kita menikah dengan orang yang sekufu, akan memperkecil hambatan dan perbedaan, yang suatu saat nanti bisa jadi sumber masalah.(gitu kata pak ustad..hehe)


Terlalu pasif menunggu, sehingga prosesnya lama.
Maksud pasif disini adalah pasrah, tidak berikhtiyar. Ingat, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak merubah nasibnya sendiri. Boleh kita selalu berdoa. Tapi berdoa tanpa usaha ya sia sia. Makanya selain berdoa agar mendapat jodoh yang saleh, juga berikhtiyar.(emange jodohmu bisa jatoh dari langit apa?  , cmon girl! Smangbo! (smangat boooo!))


Perbedaan suku,sifat dll.



Selain itu ada juga alasan alasan yang lain yang dapat menghambat keberhasilan kita mencari jodoh. Yang bersumber dari kita sendiri:


Alasan ingin membujang:


Ingin bebas.
Perlu diingat, bahwa pernikahan bukanlah suatu cara untuk pengekangan suatu kebebasan yang kita punya. Memang setelah menikah, kita haruslah tunduk dan mengabdi sepenuhnya kepada suami, sebagai istri yang baik. Tapi bukan berarti dengan pernikahan itu kita jadi terkekang. Kita adalah orang timur, bukan orang barat yang punya kebudayaan pergaulan bebas, jadi jangan sampai paham paham seperti, bahwa komitmen menikah adalah suatu hal yang dapat mengekakng kebebasan meracuni otak. Pernikahan memang suatu komitmen. Tapi bukan berarti sudah tidak bebas lagi karena terikat. Ada kebebasan kebebasan yang masih dimiliki, tetapi hanya berbeda sedikit setelah menikah. Jadi pintar pintarnya membawa diri dan kesadaran, serta komunikasi yang baik dengan calon suami nantinya, dimana batas batas kebebasan kita (gitu loooh!)


Ingin Mengejar Karier.
Karier, pekerjaan dan harta adalah hal duniawi. Ketika mengesampingkan pernikahan gara gara urusan karier, maka setelah mendapatkan karier itu, kita dapat bahagia? Kejarlah kebahagiaan dunia dan akhirat, jangan Cuma dunianya saja. Pernikahan adalah salah satu jalan untuk mencapai kebahagiaan akhirat. (emang mau jadi perawan tua gara gara ngejar karier.. ane mah ogah.. )


Trauma.
Trauma adalah hal yang berkenaan dengan factor psikologis. Mungkin karena kegagalan yang pernah dirasakan seseorang jadi merasa trauma untuk menikah lagi. Jangan rendah diri, kegagalan itu merupakan hal yang bisa terjadi kepada siapapun. Kalau tidak pernah gagal, maka tidak akan pernah merasakan keberhasilan. Bangkitlah! Jadikan kegagalan menjadi suatu pelajaran. Jadi jangan takut. Kegagalan itu merupakan takdir dari Allah. Tapi tidak baik juga apabila terus terusan tenggelam dalam perasaan putus asa dan akhirnya menjadi Anti karena trauma.


Dendam
(wuiiihh.. brasa nyi pelet aje!). dendam adalah penyakit hati. Hilangkanlah penyakit hati karena tidak baik. Maafkanlah segala sesuatu yang dirasa telah menyakiti hati. Jangan ditumpuk menjadi dendam. Memaafkan adalah suatu cara tertinggi untuk menghargai diri sendiri. Berjiwa besarlah. Ketika bisa berjiwa besar, maka hati akan lebih mudah menerima dan terbuka. (ini pendapatku sendiri, habisnya pak ustadnya gak jelas waktu jelasin, hehe.. tapi kira kira begini lah maksudnya.)


Merasa belum mampu.
Classic memang. Ini adalah hambatan umum yang dirasakan dan menjadi hambatan dalam pernikahan. Materi merupakan hal yang terelakkan yang dibutuhkan manusia. Hal inilah yang selalu membayang bayangi, meskipun kita tidak hidup hanya untuk materi. Percayalah, rejeki Allahlah yang mengatur. Sudah tertulis dalam lauh mahfuzh setiap mahluk. 





Enaknya menikah (cikiciww)


Katanya yang udah menikah nih. Menikah tu enaknya sedikit. Sisanya UENAAAAKKK TENANN.. (cpd!) tapi memang ketika kita menikah, ada nikmat nikmat lain yang kita dapatkan dan tidak kita rasakan ketika kita masih sendiri (alias jomblo!).


Ada teman curhat.
Memang mungkin saat masih sendiri kita merasa sahabat cukuplah menjadi teman curhat kita. Menumpahkan segala emosi. Tetapi berbeda jika yang menjadi teman curhat kita adalah suami kita. Selain dengan sabar mendengarkan curhat kita, dia akan berusaha memahami kita, membimbing dan member jalan atau solusi yang baik ketika kita ada masalah. Ketika sudah menikah, maka kita mempunyai seorang suami sebagai tempat berbagi, dan betul betul peduli pada kita. (Bukan berarti sahabat gak betul betul peduli sih.. tapi ngerti kan maksudnya? Beda aja! Suami bisa lebih membimbing kita, gitu lo maksudnya ).


Ada yang melindungi dan membantu. (ehemm.. hampir sama lah sama yang diatas )
Lebih nyaman.
Ketika kesempurnaan separuh agama sudah didapatkan , maka kita tinggal mengejar separuhnya lagi dengan ketakwaan. Selain itu, pernikahan merupakan ikatan yang suci, komitmen yang diridhai oleh Allah, sehingga hati terasa nyaman dalam menjalankannya. Berbeda dengan pacaran yang lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya.


Kebersamaan menjadi barang mahal.
Ketika ijab Kabul telah dilaksanakan, maka untuk pihak wanita sudah jadi milik suaminya dan harus mengikuti suami. Gak jarang pula harus berpisah dengan orang tuanya karena sudah memiliki kehidupan keluarga sendiri. Inilah sebabnya, kebersamaan dengan keluarga menjadi barang mahal yang sulit untuk didapatkan. Tapi bukan berarti hal itu jelek. Justru Karena menjadi barang mahal, kita jadi tahu, betapa berharganya sebuah kebersamaan itu.




Kiat mencari jodoh (naahhhh ini nih.. yang pasti ditunggu tunggu! Ngaku aja lo! Haha)


Minta kepada Allah.
Allah adalah Maha Kaya, manusia hanyalah seorang hamba yang MAHA MISKIN. Ingatlah itu. Tidak ada yang dapat dimintai kecuali Allah. Karena ia Maha Kaya. Mintalah padanya. Seseorang yang shaleh. Yang dapat mengantarkan kita mendapatkan ridhaNya. Yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan. Mintalah kemudahan dalam mencari pendamping hidup. Allah selalu bersama doa para hambanya.




Dan tuhanmu berfirman, “berdoalah kepadaKu, niscaya akan kuperkenankan bagimu” (QS Al Mu’min/40:60)


Melalui mediator.
Mediator ini disebut juga dengan mak comblang. Bisa menjadi alternative dalam mencari jodoh. Misalnya orang tua kita, atau guru ngaji yang mempunyai banyak murid. Sehingga kita dapat dicarikan jodoh yang sesuai dengan keinginan kita.


Secara langsung.
Memperbaiki diri.
“wanita wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji adalah untuk wanita wanita yang keji (pula), dan wanita wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik, dan laki laki yang baik adalah untuk wanita wanita yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia” (QS. An Nur : 26)


Subhanallah.. betapa Allah sudah mengatur sedemikian rupa dengan caraNya yang sempurnya. Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa kalau ingin suami yang seperti Nabi Muhammad saw. Maka jadilah Khatidjah atau Aisyah dulu. Maksudnya adlah, teruslah perbaiki diri menjadi muslimah yang baik, berusahalah jadi yang terbaik, agar jodoh kita mendapatkan yang terbaik pula. Minder juga kan kalau kita dapet yang baik tapi kitanya tidak? Maka dari itu, marilah kita senantiasa selalu termotivasi menjadi muslimah yang baik. Selain dapat pahala dari Allah, kita juga punya kesempatan untuk mendapat jodoh yang baik.


Tidak putus asa berdoa.
Memperbanyak ibadah sunnah.
Tidak muluk dalam criteria.
Memperluas pergaulan.
Maksudnya di sini bukan memperluas secara langsung. (langsung kenalan kenalan sama cowok! Ih.. waw.. agresif bener). Maksudnya adalah, perbanyaklah teman, jalin ukhuwah. Dengan sesama akhwat juga bisa. Dengan semakin luas pergaulan kita, kita jadi kenal banyak orang. Siapa tahu ada yang berjodoh. (misal nih kita kenalan sama ukhti siapa gitu. Eh.. punya kakak cowok atau kenalan atau saudara cowok, nah .. dari situlah.. siapa tau berjodoh)



Terakhir dari saya sendiri. Janganlah putus asa dalam mencari jodoh. Carilah jodoh dengan cara cara sesuai dengan syariat. Menikahlah ketika hati sudah mantap. Jangan terlalu lama mempertahankan sesuatu yang belum halal (seperti pacaran). Pernikahan adalah komitmen yang suci dan diridhai. Jadikan pernikahan sebagai cara untuk mendapatkan Ridha illahi,dapat mencegah kemaksiatan, dan menambah pahala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar